Kalau melihat foto-foto negara Tiongkok jaman dulu (1970-an atau 1980-an) di Koran maupun ensiklopedia, yang sering tampak oleh saya adalah jalan raya lebar maupun sempit dijejali pengendara sepeda onthel. Tua muda, laki perempuan, kendaraannya sepeda onthel. Nyaris tidak terlihat adanya sepeda motor. Kalaupun ada mobil cuma satu dua. Entah kenapa, kok, saya selalu merasa gambar orang ramai-ramai naik sepeda onthel itu eksotis sekali, ya. Rasa eksotisnya sama kalau saya melihat gambar di kaleng wafer Nissin: noni-noni Belanda senyum-senyum mengendara sepeda onthel sambil menenteng kotak wafer.
Jadi, sebabnya apa orang-orang Tiongkok suka bersepeda, karena soal budaya yang mengakar kuat atau soal budaya berhemat (yang sudah mahfum ditujukan kepada mereka) saya tidak tahu. Yang pasti, Tiongkok (dan tentunya Taiwan) sampai kini menjadi produsen sepeda onthel nomer wahid di dunia.
Jepang juga demikian. Semasa sekolah menengah atas, saya gemar sekali budaya Jepang yang saya kenali dari membaca majalah Japan Perspective. Dalam setiap edisi majalah itu selalu ada rubrik perbandingan budaya antar negara. Dalam sebuah edisi diberitakan budaya bersepeda masyarakat Jepang (yang memang sudah tinggi) semakin meningkat setelah diresmikannya Protokol Kyoto tahun 1997. Jalan-jalan khusus pengendara sepeda dibangun. Counter sepeda dibuka di berbagai tempat untuk melayani peminjaman warga. Hebat ya… Kini Jepang juga menjadi salah satu negara dengan penduduk yang memiliki sepeda paling banyak di dunia.
*****
Dulu semasa sekolah dasar, setiap anak selalu bersaing soal sepedanya masing-masing. Sepeda terbaik adalah yang “RRT”. Saya tidak paham dengan yang dimaksud “RRT”. Mungkin ini kependekan dari Republik Rakyat Tiongkok, merujuk kepada sepeda impor dari Tiongkok. (Kelak saya tahu, sepeda-sepeda jengki impor pada jaman itu berasal dari Taiwan, dengan merk utamanya “Phoenix”). Teman-teman yang lucunya berlagak (sok) tahu, biasanya suka meraba-raba bagian bawah poros tempat dipasangnya pedal, (sok) menganalisis, lalu bilang, “Ini sepeda RRT”. Dasar kampret thengil. Sudah seperti tukang reparasi saja. Hahaha…
Sepeda onthel pertama saya adalah sepeda mini hadiah almarhum ayah karena saya rangking pertama kenaikan kelas 3 SD. Sepulang sekolah, di halaman rumah sudah ada sepeda mini. Sadelnya, setangnya, kerangnkanya, semua masih dibungkus plastik. Sepeda itulah yang saya pakai untuk belajar mengendara.
Menginjak sekolah menengah pertama, sepeda itu masih saya pakai. Padahal jarak rumah dengan sekolah lumayan jauh, 7 kilometer. Jadi setiap hari pulang pergi harus mengayuh sepeda 14 kilometer. Tapi ya enak-enak saja. Banyak teman.
Jaman SMP, saya sering sekali terlambat sampai di sekolah. Ini bukan soal jarak yang lumayan jauh antara rumah dan sekolah. Tapi soal kenakalan saya, dan sekumpulan kampret thengil teman-teman saya sendiri. Ceritanya, kami punya kepala sekolah yang teramat disiplin, termasuk disiplin mengunci pintu gerbang sekolah. Jalan yang dilalui kepala sekolah kami ini searah dengan jalan yang kami lalui ketika berangkat. Bedanya ia naik sepeda motor, kami sepeda onthel.
Jam masuk sekolah adalah jam 7 tepat. Kira-kira kami butuh waktu setengah jam dari rumah menuju sekolah. Kami memang berangkat jam setengah 7, tapi mengayuh sepeda, ampun, pelan-pelan. Bahkan kalau ada teman yang mau cepat-cepat, kami selalu kompak menghalangi. Kalaupun nanti telat, paling tidak ada banyak teman. Hahaha… Dan, begitu kepala sekolah menyalip dengan sepeda motornya, kami pun bergegas mengayuh. Balapan. Jangan sampai kepala sekolah sempat mengunci gerbang sebelum kami menerobos masuk.
Sepeda onthel lawan sepeda motor? Tolol minta ampun. Ya jelas lah kami seringnya kalah. Alhasil kami seringnya terlambat. Begitu sampai di depan sekolah, gerbang sudah dikunci. Kepala sekolah ada di balik gerbang, berdiri, melipat tangan di belakang, dan dengan matanya yang kaku dan tajam melihat kami. Kami cuma bisa tertunduk diam, siap-siap menerima hukuman. Hukumannya? Memanggul sepeda masing-masing dari pintu gerbang ke bawah tiang bendera. Jaraknya lebih dari 100 meter. Ampun. Belum masuk kelas sudah pegal linu.
Sepulang sekolah, begitu kami akan mengambil sepeda untuk pulang, kami mendapati ban sepeda selalu kempes. Dua-duanya. Depan belakang kempes. Pelakunya? Siapa lagi kalau bukan kepala sekolah. Ya. Ada hukuman tambahan selain memanggul sepeda pagi-pagi, ban dikempes dan tempat pentil disita. Jadi harus kami ambil sendiri di ruang kepala sekolah, tentu sambil mendengarkan pelajaran tambahan soal kedisiplinan (yang isinya lebih banyak sesi marah-marahnya). Setengah jam dimarahi, pentil baru diberi.
Di depan sekolah ada tukang reparasi langganan kami memompa ban. Jadilah reparasi itu kalau siang jadi tempat pompa ban berjamaah. Untung tukang reparasi baik hati. Ia kadang-kadang memperingatkan kami, “Besok aku tutup, reparasi gak buka. Jadi besok jangan telat atau gak bisa pulang gara-gara ban kempes tak ada pompa”. Besoknya, kami benar-benar tidak akan telat masuk. Acara balapan dengan kepala sekolah dipending dan ditinjau kembali hari pelaksanaannya. Bergantung kapan reparasi buka kembali. Hahaha…kalau dipikir-pikir kami lebih patuh kepada tukang reparasi daripada kepala sekolah. Iya lah, tukang reparasi sudah jadi partner kami, sedangkan kepala sekolah selamanya adalah rival.
Saya mulai meninggalkan sepeda onthel ketika sekolah menengah atas. Jarak antara rumah dan sekolah jauh sekali. Saya lebih banyak naik bus atau nebeng teman yang punya sepeda motor untuk pulang pergi ke sekolah. Saya cuma memakai sepeda onthel untuk aktivitas di rumah.
Menginjak kuliah di Malang tahun 2004, seorang teman kontrakan membawa sepeda onthelnya. Sepeda itu lebih sering saya pakai daripada dia sendiri yang memakai. Namun semenjak sepedanya hilang dibawa seorang teman ke warnet, saya libur mengayuh sepeda. Saya mulai mengayuh sepeda lagi ketika mendapat penghasilan dari bekerja memberi les privat ke anak-anak sekolah dasar. Sebuah sepeda gunung saya beli di pasar loak seharga 300 ribu rupiah. Sepeda itu tidak awet. Rangkanya pernah patah, sadelnya jebat, dan sudah tak terhitung bannya bocor. Akhirnya, saya menjualnya ke seorang teman seharga 100 ribu, dalam keadaan bannya bocor.
*****
Kini, kota Malang, semakin padat dengan kendaraan roda dua dan empat. Baru saja saya membaca di koran lokal, kendaraan yang melintas dalam satu ruas jalan bisa sampai 800-1200 kendaraan roda dua maupun roda empat per jam. Salah satu jalur tersibuk bahkan sampai 1400 kendaraan. Alamaak… Di sana-sini sering terjadi macet. Apalagi ketika jam sibuk. Ampun, serasa di Jakarta. Tak berlebihan kalau seorang profesor dari kampus saya bilang, 5 tahun lagi kota ini jalanannya bisa mengalami macet total.
Bayangan saya melayang-layang lagi ke gambaran kota-kota di Tiongkok. Apakah masih sama kondisinya dengan gambaran jalanannya di masa-masa yang lalu? Apakah seiring kemakmurannya yang sohor itu orang-orang di sana masih tak sungkan mengayuh sepeda di jalanan? Saya cek di internet. Yang saya temui, jalanan di kota-kota besar di Tiongkok memang sudah dipenuhi dengan mobil-mobil mewah. Katanya, Tiongkok memang menjadi negara konsumen kendaraan roda empat dengan pertumbuhan paling tinggi.
Lalu di manakah sepeda-sepeda onthel itu? Apakah hilang atau tak terpakai begitu saja? Tidak. Ternyata, di sisi-sisi jalan yang dilalui mobil, ada jalur khusus sepeda onthel yang masih ramai dijubeli pengendara. Budaya bersepeda tidak begitu saja tergeser oleh budaya berkendaraan bermotor. Dan Tiongkok sampai kini masih menjadi produsen nomer satu sepeda onthel diikuti India, kemudian Indonesia.
Indonesia? Ya! Indonesia tercatat sebagai produsen sepeda onthel nomer tiga di dunia. Setidaknya itu yang saya baca. Lalu, bukankah seharusnya kondisi itu diiringi dengan budaya tinggi bersepeda ria? Sayangnya tidak. Sepertinya banyak soal. Bisa jadi soal jalanan yang tak bersahabat, mungkin juga bersepeda itu melelahkan.
Saya juga baru tahu, ternyata produsen sepeda-sepeda onthel dalam negeri lebih banyak membuat sepeda kualitas ekspor. Jarang mereka memproduksi sepeda dengan kualitas biasa-biasa saja. Akibatnya harganya teramat tinggi dan tidak bisa terjangkau masyarakat luas. Masyarakat luas masih menjadi konsumen sepeda-sepeda buatan Taiwan yang menawarkan harga lebih murah. Asumsi saya, harga mahal ini pula yang menjadikan masyarakat lebih menyukai naik sepeda motor. “Tambah sedikit duitnya sudah bisa beli motor”, mungkin begitu logikanya. Bahkan banyak seri sepeda onthel buatan dalam negeri (misalnya beberapa seri sepeda merk Polygon) harganya melampaui harga sepeda motor. Alaaaahhh… sudah gak aman di jalanan, cepet keringetan, mahal pula! Amit-amit!
*****
Kangen rasanya pengalaman balapan dengan kepala sekolah. Kangen bersepeda bersama teman-teman semasa SD dan SMP. Sudahlah. Yang jelas, karena bersepeda itu baik, ngonthel itu asyik, hemat, dan di atas semuanya menyehatkan, saya membeli sepeda onthel baru-baru ini dan berniat mengurangi pemakaian sepeda motor.
Toh Indonesia belum bisa membuat kendaraan bermotor secara mandiri, thoh. Tapi sepeda onthel, yang merek dalam negeri sudah mendunia. Jadi, saya niatkan, ini juga soal cinta produk dalam negeri. Soal kemandirian. Saya kok percaya, negeri-negeri yang mandiri, berkembang dan maju, masyarakatnya mencintai sepeda dan bersepeda. China, Taiwan, India, Jepang, Belanda, dan lain-lain. Saya rasa belum terlambat untuk ngonthel lagi, mengayuh lebih cepat dan mengejar mereka-mereka itu.
ayoo..gowes…gowees..heheeee
crita simpel namun menginspiasi…..
terus tuangkan karya” sarat makna untuk menginspirasi anak bangsa lainya….
salut maju…..
Mantap mas…
Jadi ingat jaman-jaman dulu juga,,,
Jaman dimana dipenuhi semangat membara tuk mengayuh.
Thanks tuk karya yang menggugah,,, terus ukir karya seperti ni..
Ada cerita beneran di mana guna menggerakkan ekonomi pasar, sepeda ngonthel jadi moda transportasi masyarakat kelas bawah di negara-negara afrika, yang sama dg Endhonesia, yang infrastrukturnya buruk.
Saya termasuk yang yakin, keengganan kita-kita orang ngonthel adalah infrastruktur yang buruknya minta amplopp. Soal mobil banyak di jalanan, kredit motor murah, saya pikir soal lain.