Waktu adalah tempat bagi manusia meletakkan tanda-tanda. Ia adalah tempat di mana setiap jengkalnya ditaruh kotak demi kotak peristiwa. Kadang kotak-kotak itu terbuka, namun tak jarang juga ditutup rapat-rapat. Hampir tak ada kotak yang sama, dalam semua dimensi – dan dengan demikian isinya pun tak akan setara. Namun adab manusia yang membagi telah mencacah waktu ke dalam tarikh – membuatnya menjadi seolah-olah bisa terulang – hingga kita dibolehkan mengukur, kadang-kadang, nilai kita sendiri. Jejeran kotak-kotak itu menarasikan ukurannya kepada kita.
Dalam adabnya, manusia mencacah waktu ke dalam titimangsa untuk diperbolehkan menandainya sebagai umur. Kadang-kadang absurd apa yang dinamai umur itu. Manusia dipersibukkan oleh umur untuk memantas-mantaskan diri kepada sebuah terma “dewasa”. Ia bisa sibuk mengatur deretan rencana, agenda, dan resolusi – hanya kemudian untuk bisa dikatakan menjadi “dewasa”. Sepertinya, umur lebih hebat dari alat “pemaksa” manapun – mungkin demikian yang tersebab ada terma deadline [harfiah: garis mati] – memaksa supaya tak banyak tanda mati dalam tanda-tanda kehidupan. Benar-benar absurd apa yang dinamai umur itu. Barangkali itu sebabnya Mark Twain bilang “Age is an issue of mind over matter. If you don’t mind, it doesn’t matter.”
Jika diingat-ingat lagi sejak kapan saya sendiri dipaksa oleh umur – untuk memantas-mantaskan diri – saya tak ingat. Hanya saja memang setiap yang bercita akan dipaksa untuk belajar dan kemudian barulah pantas. Saya jadi ingat kepada mereka dalam tarikhnya masing-masing dan telah membuat tanda-tanda – hingga kemudian menjadi orang yang adabnya demikian diukur tinggi. Muhammad telah menjadi pribadi gilang gemilang di umur 25. Atau Soekarno menulis Nasionalisme-Agama-Marxisme di umur 25. Pramoedya menulis prosa indahnya yang mahsyur Cerita dari Blora umur 25. Tan Malaka menjadi pemimpin hebat di umur 25 tahun. Dan saya belum mampu memberi tanda-tanda kepada titimangsa – apa yang sudah saya perbuat dalam umur yang sedemikian itu?
Maka dengan demikian saya juga ikut khawatir dengan garis mati itu. Umur telah memaksa saya untuk menjadi pantas di umur itu sendiri. Tapi, sekali lagi, saya belum mampu menjawab, apa yang sudah bisa saya terangkan dengan pantas kepada umur saya sendiri? Seperempat abad dan belum terang akan menjadi apa.