“Cita-citaku ingin jadi arkeolog”
“Arkeolog? Ooo…pasti dulu sering nonton Indiana Jones”
“Tidak juga. Aku malah tak pernah tahu ada film itu, seperti Indiana Jones itu”
“Lalu bagaimana ceritanya sampai ingin jadi arkeolog?”
Ia kemudian bercerita tentang kartu pos yang sering dikirim ayahnya. Ayahnya pegawai kantor kependudukan dan sering pulang pergi ke luar negeri. Suatu kali ketika ayahnya bepergian ke Jepang ia dikirimi kartu pos bergambar seorang laki-laki korban bom Hiroshima. Katanya gambar itu punya kesan yang mendalam.
“Itu yang dari Jepang. Yang dari Yunani gambarnya gereja. Pintunya dihias cantik sekali. Sejak itu aku ingin jadi arkeolog. Jadi arkeolog itu enaknya bisa keliling dunia”
“Ohh…”, aku manggut-manggut menginsyafi ceritanya tanpa terpikir apa hubungannya kartu pos, arkeolog, dan keliling dunia. Apa arkeolog suka mengambil foto gereja lalu dibikin kartu pos ya?
“Terus cita-citamu sendiri apa?”
“Cita-citaku jadi dalang”, kataku mantap sambil mengaduk secangkir kopi. Aku sudah menduga ia akan ganti bertanya apa cita-citaku, jadi aku sudah menyiapkan jawaban sebelumnya.
“Jadi dalang?” Pertanyaannya lebih bernada ingin meyakinkan dirinya sendiri daripada ingin tahu kalau-kalau salah dengar.
“Iya, jadi dalang wayang kulit”, sambil kuserahkan secangkir kopi panas untuknya.
Dulu aku memang pernah cerita kepadanya tentang masa kecilku ketika sering diajak menonton wayang oleh ayah dan semenjak itu aku ingin jadi dalang. Jadi kupikir jawabanku tidak akan membuatnya terkejut. Malahan kesannya bercanda. Tapi itu lebih baik daripada aku harus mengakui tentang cita-citaku yang sebenarnya: menjadi peternak kambing.
Sudah seminggu ini aku jadi sering berpikir tentang pekerjaanku nanti. Maksudku pekerjaan yang benar-benar pekerjaanku. Pekerjaan yang akan aku lakoni sampai tua, yang akan jadi embel-embel namaku. Ia seperti menyebut “guru” untuk Umar Bakri, “pelukis” untuk Affandi, atau “penyanyi” untuk seorang Iwan Fals. Jadi bukan seperti pekerjaanku yang sekarang ini.
Sudah kuputuskan aku akan berhenti dari pekerjaanku sebagai klerk dalam dua minggu ke depan meskipun sampai sekarang aku belum pernah mengutarakan niatku itu kepada atasanku. Setelah lebih dari dua tahun aku merasa benar-benar bosan bekerja jadi orang kantoran.
Sebenarnya aku ingin membicarakannya dari kemarin-kemarin. Tapi canggung sekali rasanya. Akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan kantor. Tak enak kalau aku harus meninggalkan teman-teman sementara pekerjaan banyak. Apa lagi dua hari yang lalu ada pembagian seragam baru untukku. Hal itu membuatku makin sungkan dan rikuh. Tapi apa boleh buat? Keputusanku sudah bulat. Aku akan mengundurkan diri dari pekerjaanku yang sekarang ini dan mengejar cita-cita menjadi peternak kambing.
Jadi suatu hari nanti aku akan punya peternakan seluas sepuluh hektar di lereng gunung. Aku membayangkan peternakanku terdiri dari sebuah rumah, tiga kandang, sebuah tempat pemotongan, sebuah gudang dan sisanya hanya lahan penuh rumput tempat kambing-kambingku bermain.
Sekeliling peternakan akan kupagari. Di gerbang pintu masuk akan kupasang sebuah papan nama. Sebenarnya aku ingin menuliskan namaku sendiri di papan itu. Khan bagus kalau orang-orang jadi tahu siapa pemilik peternakan itu? Tapi setelah kupikir-pikir namaku tak bagus dijadikan nama peternakan. Coba aku punya nama semacam nama-nama koboi di Texas sana. John, Matt, atau James. Khan kesannya gagah, ya? Misalnya “Johnson’s Ranch”.
Jadi aku tidak akan memakai namaku sendiri untuk ditulis di papan nama peternakan. Aku akan menulis di papan nama itu “Rojokoyo”. Aku pikir itu nama yang unik. Coba dengarkan tautan bunyi o..o..o..o. Khan menarik? Itu aslinya bahasa Jawa yang artinya hewan peliharaan berjenis mamalia. Aku akan menulis “Rojokoyo Ranch” dengan font khas western. Jadi papan namanya melengkung di atas pintu gerbang gaya peternakan-peternakan di Montana yang aku lihat di iklan rokok.
Aku akan memelihara tiga macam kambing yaitu kambing jawa, kambing gibas, dan kambing ettawa. Sebenarnya aku tak punya alasan khusus kenapa harus kambing jenis-jenis itu yang kupelihara. Kambing yang aku kenal sejak kecil adalah kambing jawa dan kambing gibas. Kalau kambing ettawa itu karena susunya bisa diperah dan sepertinya cukup menarik kalau suatu saat aku bisa memerah dan meminum susu kambing-kambingku sendiri. Betapa asyiknya!
Mungkin jumlahnya masing-masing lima puluh ekor dan setiap jenis akan punya kandang sendiri-sendiri. Aku pikir jumlahnya terlalu banyak jadi aku akan menyuruh orang untuk membantuku. Tentu aku tak sanggup menangani kambing-kambing sebanyak itu. Apalagi aku belum punya banyak pengalaman beternak kambing sebanyak itu.
Seingatku, keluargaku tak mujur kalau punya ternak. Dulu orangtuaku memang pernah memelihara sapi dan kambing. Tapi tak pernah “jodoh”. Malahan merugi terus. Pernah suatu kali memelihara dua ekor sapi jantan dan betina. Si jantan makannya susah jadi tubuhnya kurus. Si betina bisa gemuk tapi tak bisa beranak. Ayah beberapa kali mengawinkannya dengan pejantan kepunyaan tetangga tapi juga tak kunjung bunting. Pernah juga disuntik mantri hewan tapi hasilnya nihil. Akhirnya kedua sapi itu dijual di pasar hewan di dekat rumah.
Kemudian ayah memelihara kambing gibas. Jumlahnya lima ekor. Kambing-kambing itu doyan sekali makan. Diberi rumput, jerami, dedaunan, semuanya dimakan. Mereka cepat sekali gemuk. Tapi seekor kambing jantan yang paling tua suka berteriak-teriak siang maupun malam. Kadang-kadang aku curiga kambingku insomnia. Entah lapar entah kenyang ia “ngembek” terus menerus. “Embeeeeek…”. Suaranya benar-benar mengganggu seisi rumah. Aku sendiri tak tahan. Akhirnya kambing-kambing itu dijual semuanya menjelang aku ujian akhir sekolahan. Kata ayah, ia khawatir suara kambing itu mengganggu belajarku. Semenjak saat itu keluargaku tak pernah lagi memelihara sapi atau kambing. Jadi kalau nanti aku beternak kambing, itu bisa juga menjadi semacam pembuktian kalau ada anggota keluargaku yang masih punya “jodoh” dengan kambing.
Nanti kalau aku punya peternakan kambing, tugasku adalah menyiapkan makan, minum, membersihkan kandangnya, dan mengantarnya ke pasar kalau ada yang harus kujual. Selebihnya aku biarkan kambing-kambingku bermain di rerumputan. Khan asyik melihat anak kambing kecil-kecil berkejaran kesana kemari. Paling-paling aku cuma menggembala kambing-kambingku supaya tidak keluar dari peternakan. Pasti menyenangkan menjadi penggembala. Bukankah ceritanya nabi-nabi itu seorang penggembala? Yusuf penggembala. Yesus penggembala. Muhammad juga penggembala. Mereka menggembala domba sebelum menggembala manusia. Jadi aku kira menjadi gembala itu pastilah sebuah tugas mulia.
Kalau kambingku beranak pinak aku akan bikin warung steak daging kambing di kota. “Goat Steak”. Memang terdengar tak lumrah. Khan yang ada selama ini “Beef Steak”? Tapi tak ada salahnya dicoba ada menu “Original Goat Steak” lalu ada tagline “Fresh From Rojokoyo Ranch”.
Aku pikir beternak kambing akan memberiku banyak waktu luang. Jadi sementara kambing-kambingku bermain, aku akan banyak membaca dan menulis. Aku akan berlangganan koran. Tapi kalau loper tak mau mengantar koran ke lereng gunung terpaksa aku ke kota setiap pagi naik sepeda onthel. Bagaimanapun juga aku harus membaca koran setiap hari. Aku perlu tahu berita dari seluruh tempat. Aku juga akan bikin kliping untuk berita-berita yang kuanggap penting.
Sisa waktunya akan kugunakan untuk menulis. Ya menulis apa saja. Menulis buku harian, menulis novel, menulis puisi, pokoknya apa saja yang bisa kutulis. Aku janji tulisan pertamaku di peternakan adalah tentang kambing-kambingku. Kalau nanti ada tulisan yang kurasa cukup bagus akan kukirim ke koran. Kalau cukup dibikin buku maka aku kirim ke penerbit supaya dicetak dan dijual. Tak jadi soal buku-bukuku akan laku atau tidak. Khan, aku sudah punya cukup uang dari beternak kambing. Yang penting namaku bisa dikenal orang dengan embel-embel “penulis, tapi juga peternak”.
(seperti diceritakan seorang ketika bosan menunggu hujan di sore hari yang tak reda-reda)
Hahahahaha… cita – cita yang menyenangkan… sip, pasti aku bakal sering rekreasi ke Rojokoyo Ranch.. buat o beberapa cottage yang depan nya ada sungai nya yaaaa.. ntar tiap liburan anak2 sekolah tak sewa nya seminggu.. hmm… menyenangkan…..