Bagaimana caranya menertawai malam? Saya punya jawaban. Kalau jam dinding sudah berdentang sebelas kali, saya buru-buru menyalakan radio, kemudian memutar frekuensi yang angka-angkanya sudah saya hafal di luar kepala. Kidungan Jula-Juli mulai mengalir ke telinga diikuti dialog-dialog kocak Cak Kartolo dan kawan-kawannya yang tengah mengudara dalam lakon ludruknya.
Saya sudah lupa sejak kapan suka menikmati ludruk. Setidaknya, bagi saya yang asli Jawa Timur, ludruk adalah hiburan yang akrab. Ludruk grup Cak Kartolo Cs apalagi. Ia kocak, merakyat, dan tentunya sangat menghibur.
Cak Kartolo legenda hidup ludruk Jawa Timur. Ia orang yang sangat populer. Saking populernya, setiap orang yang punya lagak pandai melucu akan selalu diidentikkan dengan Cak Kartolo. Umpamanya ada orang yang tiba-tiba keluar candaannya, ia akan dibilang mirip Cak Kartolo.
Ludruk beda dengan wayang dan kethoprak. Wayang dan kethoprak lahir tidak jauh dari lingkungan istana yang penuh dengan unggah-ungguh. Sedangkan ludruk lahir di tengah-tengah rakyat pinggiran yang penuh spontanitas. Ia terwujud dari bahasanya yang sederhana, lugas, dan sangat berkesan egaliter. Cerita ludruk juga tidak jauh dari urusan sehari-hari. Dari urusan sulitnya mencari duit sampai cerita kesusahan hidup berumah tangga. Dari cerita orang yang suka tipu-tipu sampai orang yang mencoba selingkuh. Semua bisa disimak dalam beberapa lakon misalnya Basman Juragan Genthong, Welut Ndas Ireng, Loro Pangkon, dan Dadung Kepuntir. Semuanya selalu ada bumbu guyonannya. Mungkin boleh dikatakan, ludruk Cak Kartolo ini ludruk lawakan.
Satu hal yang bisa saya petik dari setiap lakon ludruk Cak Kartolo adalah pelajaran menertawai hidup. Seserius dan sesulit apapun masalah, ia mesti dihadapi dengan senyum dan canda tawa. Tertawa adalah kekuatan untuk bertahan dalam tekanan hidup meskipun apa yang ditertawakan adalah ironi kehidupannya sendiri.
Sindhunata mengatakan, segala sesuatunya toh “ngglethek”. Dalam bukunya yang berjudul Ilmu Ngglethek Prabu Minohek (yang memang mengulas tentang ludruk Cak Kartolo), ia katakan, “Manusia adalah makhluk yang sangat pelit dengan tertawa,”.
“Padahal hanya dengan tertawa, ia akan menjadi makin bijaksana. Hanya dengan tertawa, ia akan kuat dan bisa menerima hidupnya sehari-hari yang rutin dan biasa, dengan segala beban dan kesulitannya. Tertawa adalah intisari ilmu ngglethek. Hanya dengan tertawa, kita bisa menyelami, sesungguhnya hidup ini hanyalah ngglethek belaka. Ngglethek, maksudnya, adalah apa yang kita bayangkan ternyata lain dengan kenyataan yang terjadi, dan apa yang kita usahakan mati-matian, ternyata tak berarti apa-apa buat hidup kita”.
Yu Painten keleleken jendelo,
Cekap semanten piatur kulo…
ditulis dengan sangat singkat dalam malam yang memaksa saya mengakui bahwa lawakan ludruk Cak Kartolo semakin berarti tahun-tahun terakhir ini …
saja sebetulnja suka dengan lakon ludruk. dalem kebudajaan lelakon rakjat, djawa timur memanglah kaja. ludruk djuga sering dipake sebagai pelepasan dalem melawan daripada kuasa negara jang otoriter. bolehlah, suatu saat, bung bisa adjak saja dengerken ini grup ludruk Cak Kartolo.
Kalaoe demikian, akan sahaja bikin satoe peroendangan kepada bung oentoek dateng ke Malang. Bolehlah kita bintjang-bintjang sepoetar negeri Indopahiet ini, dengerken Cak Kartolo poenja lawakan, tentoenja sambil njeroepoet kopie barang segelas doea gelas
temtu menjenangken bilamana undangan bung itu terlaksana. hehehe
Kalaoe memang begitoe, bila ada sempat taroehlah sehari doea hari, bung kasih taoe. Owe akan siapken. Memang boekan karpet merah, cuma tiker pandan. Kita bisa bikin obrolan dari Tjamboek Berdurie sampe New Yorker. hehehe…
wah wah wah, jadi inget masa kecil di Malang, kalo gak salah dulu radio KDS 8 yang sering menyiarkan ludruk Cak Kartolo, alangkah senangnya kalo ada koleksi Ludruk Cak Kartolo apalagi dalam format digital, sedap kaleeee
Betul sekali Cak Munir. Ini lawakan Cak Kartolo ada di prekuensi 97.8 KDS 8 FM