MIFEE Datang Tanah Pun Hilang

“Kami sudah hibahkan tanah kami buat mereka. Biar saja. Kami kembalikan tanah kami kepada Tuhan Maha Pemberi. Biar saja yang penting kami semua selamat.”

Kata-kata itu keluar dari mulut Stephanus Gebze yang kehilangan tanah warisan leluhurnya di Kampung Domande, Distrik Okaba, Merauke, Papua. Dia mengatakan tanah tersebut telah diserobot oleh salah satu perusahaan yang mengklaim memiliki hak konsesi lahan program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Keluarga Stephanus dan beberapa keluarga lainnya tidak mendapatkan sepeserpun ganti rugi. Tiba-tiba saja perusahaan datang dengan membawa surat hak kepemilikan lahan.

Pengalaman Stephanus hanyalah satu dari sekian banyak cerita tak sedap yang dialami warga Merauke akibat program MIFEE. MIFEE, proyek besar yang digulirkan Pemerintah Indonesia sejak 11 Agustus 2010 lalu, disebutkan telah menimbulkan banyak kerugian. Selain dikhawatirkan menimbulkan kerusakan alam luar biasa, MIFEE juga telah menyemai benih-benih konflik yang kini mulai terasa di Merauke. Continue reading

Mbok Tandur

Sore lingsir perlahan sekali. Hari ini matari memilih jalan yang landai barangkali. Namun itulah yang memang diinginkan Mbok Tandur, petang jangan buru-buru sampai. Kalau petang lekas sampai, tentu selembar tikar yang masih tiga perempat jadi batal diambil Juwariyah untuk dijual ke Pasar Wage besok pagi.

Memang kemarau begini matari sering memilih jalan di sebelah utara rumah bambu Mbok Tandur. Nah, kalau matari sinarnya sudah sekuning telorceplok, dan sudah sorot lewat sela-sela genteng yang pecah di depan rumah, berarti hari memang benar-benar sudah sore. Nyatanya belum. Babon lurik, si induk ayam milik Mbok Tandur juga masih berkeliaran mengasuh anak-anaknya. Kalau surup menjelang tentu ia segera mendekati kandang.

Mbok Tandur masih menganyam tikar. Jari-jari keriputnya terampil menyulam batang demi batang mendong. Kedua matanya bekerja keras mengawasi mana mendong warna warna merah, warna hijau, atau mendong polos yang tak disumbo. Jangan sampai salah. Sebab kalau jumbuh, tentu tak bagus jadinya tikar. Continue reading

Arnold dari Nabire

Patrick Arnold BelauDi akhir Juni 2012, Patrick Arnold Belau berlayar dari Papua menuju Jawa. Dari Port Numbay, pelabuhan di ujung timur Indonesia, ia menumpang Kapal Muat Labobar. Setelah sauh dilepas, dan baling-baling di bawah air berputar, barisan bukit-bukit di atas kota yang dulu bernama Jayapura itu mengecil kemudian hilang sama sekali. Bergantilah rupanya dengan bayang-bayang wajah kota Jakarta yang akan ia temui di ujung pelayaran.

Perjalanan kapal Labobar sungguh tak singkat: enam hari lima malam. Singgah di enam pelabuhan — mula-mula di Nabire, Wasior, Manokwari, Sorong,  Makasar, Surabaya — barulah Jakarta. Coba bayangkan, betapa melelahkan perjalanan begitu rupa. Namun apalah yang bisa membuat lelah bila tekad sudah bulat. Yang pokok adalah sampai ke Jakarta kemudian belajar menulis. Ya, jauh-jauh dari kota di timurnya matahari itu, niat Arnold hanya ingin belajar menulis dengan baik. Continue reading

“Kupetik Pucuknya”

Gsc Almh

Bapakmu sedari tadi duduk memunggungiku di ambang pintu yang dibuka lebar-lebar. Entah apa yang ia pandangi di depan sana. Rumpun-rumpun tebu, jalan berdebu, atau trubus tembakau di pekarangan yang baru saja ditanam dua hari lalu. Namun apapun yang ia lihat, tentu ditingkahi bayanganmu yang lalang lalu.

Emakmu baru saja menyuguhkan kopi pahit yang lupa tak dituang gula dan sepiring pisang goreng sisa suguhan tahlilan semalam. Ia buru-buru pamit keluar sambil menggendong seonggok kesedihan yang tak rela ia bagi denganku, dengan siapa saja. Continue reading

Sekali Bersama di Kebayoran Lama

DiAtapApartemen

Tentang Andreas Harsono dan catatan harian rupa-rupa selama mengikuti kelas Jurnalisme Sastrawi di Jakarta.

SAYA DUDUK di sebelahnya. Sembari makan siang, ia cerita soal Acheh. “Helsinki itu gak menyelesaikan semua masalah. ASNLF (Acheh-Sumatra National Liberation Front atau Atjeh Meurdehka)  itu hidup lagi, lho. Tapi di Berlin,” katanya, “tandanya masih ada perlawanan.”

Saya tanya, apa yang kurang dari perjanjian Helsinki sehingga perlawanan bangsa Acheh masih muncul. “Kurangnya cuma satu saja: merdeka.” Enteng sekali ia menjawab.

“Sudahlah. Nanti perang lagi di Acheh.”

Apakah itu Prediksi? “Bukan prediksi lagi. Tunggulah sepuluh atau lima belas tahun lagi. Pasti itu. Sekarang ini tinggal nunggu saja ada anak muda, yang pinter gitu, masuk ke kampung-kampung bangunin warga. Apalagi darah biru gitu, jadi sudah.”

Topi lakennya naik turun mengikuti kelopak matanya yang diangkat beberapa kali. Bibirnya menyungging. Senyum tipisnya muncul. Sementara kening saya mengkerut.

Saya tidak menyangka. Perbincangan saya pertama kali dengan Andreas Harsono ada dalam sebuah makan siang dengan lauk yang tidak biasa: cerita tentang Acheh. Tentu saja makanan jadi tambah berminyak. Sebagian minyak tumpah di dalam mulut, sebagian lagi tumpah di dalam pikiran. Continue reading