“Kami sudah hibahkan tanah kami buat mereka. Biar saja. Kami kembalikan tanah kami kepada Tuhan Maha Pemberi. Biar saja yang penting kami semua selamat.”
Kata-kata itu keluar dari mulut Stephanus Gebze yang kehilangan tanah warisan leluhurnya di Kampung Domande, Distrik Okaba, Merauke, Papua. Dia mengatakan tanah tersebut telah diserobot oleh salah satu perusahaan yang mengklaim memiliki hak konsesi lahan program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Keluarga Stephanus dan beberapa keluarga lainnya tidak mendapatkan sepeserpun ganti rugi. Tiba-tiba saja perusahaan datang dengan membawa surat hak kepemilikan lahan.
Pengalaman Stephanus hanyalah satu dari sekian banyak cerita tak sedap yang dialami warga Merauke akibat program MIFEE. MIFEE, proyek besar yang digulirkan Pemerintah Indonesia sejak 11 Agustus 2010 lalu, disebutkan telah menimbulkan banyak kerugian. Selain dikhawatirkan menimbulkan kerusakan alam luar biasa, MIFEE juga telah menyemai benih-benih konflik yang kini mulai terasa di Merauke. Continue reading
Di akhir Juni 2012, Patrick Arnold Belau berlayar dari Papua menuju Jawa. Dari Port Numbay, pelabuhan di ujung timur Indonesia, ia menumpang Kapal Muat Labobar. Setelah sauh dilepas, dan baling-baling di bawah air berputar, barisan bukit-bukit di atas kota yang dulu bernama Jayapura itu mengecil kemudian hilang sama sekali. Bergantilah rupanya dengan bayang-bayang wajah kota Jakarta yang akan ia temui di ujung pelayaran.
