By Fajar

Sudah sebulan ini ada Car Free Day di Kota Malang. Dipusatkan di Jalan Ijen. Namanya juga hari bebas kendaraan bermotor, orang-orang bebas bersepeda onthel, anak-anak muda bermain skateboard, berlatih breakdance, atau… hanya jalan-jalan santai bersama keluarga. Senang sekali melihatnya. Tapi juga sedikit merasa ironis. Bikin Car Free Day tentu ada sebabnya: daripada sebelumnya, kota ini sekarang lebih sering dibikin macet oleh kendaraan bermotor.
By Fajar
Kalau melihat foto-foto negara Tiongkok jaman dulu (1970-an atau 1980-an) di Koran maupun ensiklopedia, yang sering tampak oleh saya adalah jalan raya lebar maupun sempit dijejali pengendara sepeda onthel. Tua muda, laki perempuan, kendaraannya sepeda onthel. Nyaris tidak terlihat adanya sepeda motor. Kalaupun ada mobil cuma satu dua. Entah kenapa, kok, saya selalu merasa gambar orang ramai-ramai naik sepeda onthel itu eksotis sekali, ya. Rasa eksotisnya sama kalau saya melihat gambar di kaleng wafer Nissin: noni-noni Belanda senyum-senyum mengendara sepeda onthel sambil menenteng kotak wafer.
Jadi, sebabnya apa orang-orang Tiongkok suka bersepeda, karena soal budaya yang mengakar kuat atau soal budaya berhemat (yang sudah mahfum ditujukan kepada mereka) saya tidak tahu. Yang pasti, Tiongkok (dan tentunya Taiwan) sampai kini menjadi produsen sepeda onthel nomer wahid di dunia.
Jepang juga demikian. Semasa sekolah menengah atas, saya gemar sekali budaya Jepang yang saya kenali dari membaca majalah Japan Perspective. Dalam setiap edisi majalah itu selalu ada rubrik perbandingan budaya antar negara. Dalam sebuah edisi diberitakan budaya bersepeda masyarakat Jepang (yang memang sudah tinggi) semakin meningkat setelah diresmikannya Protokol Kyoto tahun 1997. Jalan-jalan khusus pengendara sepeda dibangun. Counter sepeda dibuka di berbagai tempat untuk melayani peminjaman warga. Hebat ya… Kini Jepang juga menjadi salah satu negara dengan penduduk yang memiliki sepeda paling banyak di dunia. Read More »
By Fajar
Waktu adalah tempat bagi manusia meletakkan tanda-tanda. Ia adalah tempat di mana setiap jengkalnya ditaruh kotak demi kotak peristiwa. Kadang kotak-kotak itu terbuka, namun tak jarang juga ditutup rapat-rapat. Hampir tak ada kotak yang sama, dalam semua dimensi – dan dengan demikian isinya pun tak akan setara. Namun adab manusia yang membagi telah mencacah waktu ke dalam tarikh – membuatnya menjadi seolah-olah bisa terulang – hingga kita dibolehkan mengukur, kadang-kadang, nilai kita sendiri. Jejeran kotak-kotak itu menarasikan ukurannya kepada kita.
Dalam adabnya, manusia mencacah waktu ke dalam titimangsa untuk diperbolehkan menandainya sebagai umur. Kadang-kadang absurd apa yang dinamai umur itu. Manusia dipersibukkan oleh umur untuk memantas-mantaskan diri kepada sebuah terma “dewasa”. Ia bisa sibuk mengatur deretan rencana, agenda, dan resolusi – hanya kemudian untuk bisa dikatakan menjadi “dewasa”. Sepertinya, umur lebih hebat dari alat “pemaksa” manapun – mungkin demikian yang tersebab ada terma deadline [harfiah: garis mati] – memaksa supaya tak banyak tanda mati dalam tanda-tanda kehidupan. Benar-benar absurd apa yang dinamai umur itu. Barangkali itu sebabnya Mark Twain bilang “Age is an issue of mind over matter. If you don’t mind, it doesn’t matter.” Read More »
By Fajar
“Cita-citaku ingin jadi arkeolog”
“Arkeolog? Ooo…pasti dulu sering nonton Indiana Jones”
“Tidak juga. Aku malah tak pernah tahu ada film itu, seperti Indiana Jones itu”
“Lalu bagaimana ceritanya sampai ingin jadi arkeolog?”
Ia kemudian bercerita tentang kartu pos yang sering dikirim ayahnya. Ayahnya pegawai kantor kependudukan dan sering pulang pergi ke luar negeri. Suatu kali ketika ayahnya bepergian ke Jepang ia dikirimi kartu pos bergambar seorang laki-laki korban bom Hiroshima. Katanya gambar itu punya kesan yang mendalam. Read More »
By Fajar
Aku menyalakan televisi dan menonton berita pagi. Presenter memberitakan soal maraknya ancaman bom. Katanya bom ada di mana-mana. Bom ada di pasar, bom di trotoar, di perkantoran, sampai di timur tengah. Dari bom betulan, bom yang dimasukkan dalam buku, sampai “bom-boman”.
Bungkusan tas kresek tergeletak di tepi jalan dikira bom. Orang-orang hiruk menonton polisi yang sedang mendeteksi. “Pemirsa, alat detektor berbunyi lebih nyaring ketika didekatkan pada bungkusan yang dicurigai sebagai bom. Namun ketika bungkusan tersebut dibuka, di dalamnya hanya terdapat kabel, beberapa batere, dan senter bekas”, seorang reporter menarasikan beritanya dalam tayangan yang diberi label “eksklusif”. Read More »
By Fajar

“Kalau masih ditanya juga soal apa agama saya, saya akan jawab: agama saya adalah jurnalisme”. (Andreas Harsono)
Empat tahun lalu, seorang kakak angkatan yang aktif sebagai redaktur di sebuah majalah kampus mengajak saya mewawancarai seorang narasumber dalam liputan pemilihan rektor. Usai wawancara, ia menantang saya untuk menulis hasil wawancara itu menjadi sebuah berita. Saya enggan menerima tantangannya. Saya belum pernah sekalipun menulis berita, apalagi untuk dibaca banyak orang. Pengalaman menulis yang saya punyai cuma bikin catatan di buku harian. Namun karena ia berjanji akan menyunting hasilnya, saya beranikan untuk membuat berita tersebut. Read More »
By Fajar

Hari Sabtu kemarin saya ikut rombongan ke acara resepsi nikahan seorang kawan di Kabupaten Pasuruan. Pulangnya mampir berwisata ke Taman Safari. Naik mobil, berkeliling hutan, mengunjungi satu destinasi ke destinasi lainnya. Rasa-rasanya seperti kembali ke jaman masih sekolah dasar… Hehehe…
O iya, saya sempat memotret seekor harimau. Pas sekali ia menjulurkan lidahnya alias melet. So, are you kidding me, Cat? ©fajarriadi